KAYUWANAN (MAJALAH ONLINE GEREJA KRISTEN JAWA)
KAYUWANAN (MAJALAH ONLINE GEREJA KRISTEN JAWA)

PERHATIAN !
SETIAP ARTIKEL/POSTINGAN GAMBAR/FOTO DAPAT DIKOMENTARI, ADMIN BERHAK MENGHAPUS APABILA :
- Komentar menyinggung sara dan partisan
- Komentar tidak boleh berupa fitnah dan atau berupa penyerangan terhadap karakter seseorang atau golongan
- Komentar tidak boleh berupa porno/vulgar/sarkastik
- Komentar tidak boleh bertentangan dengan Alkitab/Pancasila UUD 1945 ADMIN MENGHARAPKAN PARTISIPASINYA UNTUK MELAPORKAN JIKA ADA HAL-HAL YANG BERTENTANGAN/MELANGGAR HAL-HAL DIATAS. TERIMA KASIH.
- Cara Kirim : Email : multimedia@gkj.or.id
- Redaksi : Dyan Sunu, Sat Herry, PDILM-GKJ
Redaksional

Tujuan dari penerbitan KAYUWANAN

Menjadi media komunikasi dan pembinaan baik di Lingkungan Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa, maupun bagi sesama umat manusia yang berperan sebagai wadah edukasi & informasi yang menjawab kebutuhan gereja.

Diterbitkan oleh
Badan Pelaksana Sinode GKJ
Penanggung Jawab
Bidang PWG Badan Pelaksana Sinode GKJ
Redaktur Pelaksana
Pdt. Dyan Sunu Prakosa
Pdt. Sat Herry Sucahyo
Pusat Data Informasi-Layanan Media GKJ
Disain Grafis/Tata Letak/Ilustrator
Tim Kayuwanan
Alamat Redaksi
Kantor Sinode GKJ
Jl. Dr. Sumardi 8 & 10 SALATIGA 50711
Telp. (0298) 326684
Email: multimedia@gkj.or.id
Web: www.gkj.or.id


Tata Cara Pengutipan dan Berkomentar

Kayuwanan Online sebagai majalah online GKJ yang akan terus berusaha mempertahankan kualitas dan mempertanggungjawabkan isi sebaik mungkin. Setiap artikel telah diperiksa oleh redaksi secara bertanggung jawab dan artikel yang dipilih merupakan topik-topik yang sudah dipersiapkan secara mendalam oleh Tim. Bagi pembaca yang ingin mengutip kalimat-kalimat yang ada di dalam artikel Kayuwanan, silakan mengikuti tata cara pengutipan sebagai berikut:

  1. Kutipan dari artikel Kayuwanan tidak diubah isi
  2. Harus mencantumkan nama penulis artikel yang dikutip
  3. Harus mencantumkan nara sumber yang lengkap

Redaksi Kayuwanan sangat menantikan setiap masukan, saran, maupun kritik yang membangun baik itu untuk isi/konten artikel, desain maupun situs web. Silakan ketik respon Anda dengan terlebih dahulu login melalui Facebook. Terima kasih.

BUKAN SOAL BESAR ATAU KECIL

Sejak kecil, anak-anak sudah dilatih jadi “orang besar” oleh bapak-ibunya. Jika ditanya “besok kalau sudah gede mau jadi apa dik?” segera orangtuanya membisik; “jadi dokter pakdhe...” atau “jadi petinggi tante” atau “jadi presiden om”. Semakin tinggi (jadi orang besar) yang dicita-citakan anak semakin bangga orang tuanya.Ternyata semuaorang ingin jadi besar, kalau bisa jadi orang yang terbesar! Salahkah? Tentu saja tidak sepenuhnya salah, siapa sih yang tidak senang jadi orang besar? Yakin, dari sepuluh orang belum tentu ada satu yang tidak bersedia. Bukankah menjadi besar itu asik? Hidup enak, dilayani, tinggal perintah sana-sini. Eforia kebesaranpun terjadi dan banyak orang mbungahi untuk menjadi yg terbesar.

Namun gara-gara berebut menjadi orang besar, pertengkaranpun tidak jarang dilakukan. Rasul-rasul Tuhan juga pernah melakukan itu; mereka bertengkar untuk memperebutkan siapa yang terbesar (Markus 9:33-37; Lukas 9:46-48). Lucunya; Tuhan malah mengambil anak kecil dan menempatkan di tengah-tengah mereka, lalu memeluknya dan menjelaskan bahwa yang terbesar adalah mereka yang menyambut si kecil dengan kasih, yang menyambut kaum lemah, yang bersedia melayani. Hebat! Tuhan Yesus menghancurkan eforia kebesaran para Rasul dengan cara bijak. Menjadi yang terbesar bukan soal kedudukan dalam ketinggian jabatan tertentu, bukan pula soal fisik. Menjadi besar berarti memiliki fungsi untuk melayani. Dan Tuhanpun berkata “... Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yan...lihat selengkapnya