PEMAKAMAN SAYA

Tidaklah mungkin seseorang bisa menuliskan pemakamannya sendiri dengan gaya jurnalistik ketat, harus menjawab 5W dan 1H. Maka dari itu ketika saya menulis subject 'Pemakaman Saya' jangan disangka ini adalah tulisan orang yang sudah meninggal. Bukan pula berdasarkan mimpi meninggal dunia.

Subject tersebut saya kutip dari salah satu tulisan Paulo Coelho dalam bukunya Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan (terj. 2013). Kisahnya Paulo diwawancarai wartawan The Mail on Sunday: 'Seandainya Anda mati hari ini, pemakaman macam apa yang Anda inginkan?'

Konon, Paulo berpikir tentang kematian sejak 1986. Berarti setidaknya selama 20 tahun ia bergumul tentang kematian, sebelum menuliskan pengalaman wawancaranya pada 2006. Diakui, membayangkan semua akan berakhir itu ngeri. Untungnya, Paulo lalu melakukan latihan untuk menyelami rasanya dikuburkan hidup-hidup. Buahnya, ia kemudian bisa menganggap kematian sebagai teman sehari-hari, yang selalu mendampinginya. Bahkan saking akrabnya, si kematian itu menyampaikan kata-kata demikian kepada Paulo: 'Aku akan mencolekmu, tapi kau tidak akan tahu saatnya. Maka jalanilah hidupmu seintens mungkin.' Praktis, tidak menunda pekerjaan dan menikmati pengalaman -bersukacita, menuntaskan kewajiban pekerjaan, meminta maaf kalau telah melukai perasaan orang, serta berkontemplasi tentang saat-saat sekarang adalah hari terakhirnya- menjadi kegemaran Paulo.

Menjawab pertanyaan:'...bagaimana dengan tulisan di batu nisan?' Ia pun memilih: 'Dia wafat ketika sedang menjalani hidupnya.' Jawaban tersebut dipilih Paulo ketika dipaksa oleh wartawan tersebut, mengingat sebenarnya ia memilih dikremasi.

Paulo sadar, membicarakan tentang kematian bukanlah topik yang disukai orang. Hal ini memang benar. Ketika pertemuan pendeta dan keluarga di Klasis Kulonprogo, saya lontarkan topik bagaimana kita mempersiapkan kematian, banyak yang mengalihkan perhatian. Lebih penting bicara tentang bagaimana menjalani hidup ketimbang mempersiapkan kematian masing-masing. 'Biarlah orang mati menguburkan orang mati', seloroh salah satu teman pendeta yang hafal teks-teks suci. Tidak mengherankan bila berapa bht yang diterimakan gereja, ikut asuransi apa, inventaris kendaraan sudah diganti belum, investasi apa sebaiknya untuk persiapan pendidikan anak, masa pensiun, dst.. menjadi lebih menghidupkan percakapan.

Betul juga, dengan kemampuan mengelola hal tersebut, akan nampak sebagai insan yang bertanggung jawab. Paling tidak, oleh anak-anak nanti akan dikenang sebagai orang tua yang gagah perkasa. Pada sisi lain, akan menjadi pendeta yang penuh semangat mencari terobosan-terobosan sambilan yang menghasilkan income. Dari 'bisnis perikop', berjejaring tukar mimbar di mana-mana berdasar azas kemitraan dan relasi, hingga upaya melanggenggkan kekuasaan (kalau punya kuasa).

Di balik semua itu, kata Paulo, 'kita semua akan berhadapan dengan maut, tetapi kita tak pernah tahu, kapan maut akan menggamit kita.' Karenanya menjadi penting untuk menyadari motif dari setiap dorongan hati. Demi apakah semua itu kita lakukan? 'Sebab, entah kita suka atau tidak, malaikat maut telah menunggu kita.'


Setiyadi

KAYUWANAN
PEMAKAMAN SAYA
Tanggal upload 27 Desember 2013 dibuka : 1304 kali