BUKAN SOAL BESAR ATAU KECIL

Sejak kecil, anak-anak sudah dilatih jadi “orang besar” oleh bapak-ibunya. Jika ditanya “besok kalau sudah gede mau jadi apa dik?” segera orangtuanya membisik; “jadi dokter pakdhe...” atau “jadi petinggi tante” atau “jadi presiden om”. Semakin tinggi (jadi orang besar) yang dicita-citakan anak semakin bangga orang tuanya.Ternyata semuaorang ingin jadi besar, kalau bisa jadi orang yang terbesar! Salahkah? Tentu saja tidak sepenuhnya salah, siapa sih yang tidak senang jadi orang besar? Yakin, dari sepuluh orang belum tentu ada satu yang tidak bersedia. Bukankah menjadi besar itu asik? Hidup enak, dilayani, tinggal perintah sana-sini. Eforia kebesaranpun terjadi dan banyak orang mbungahi untuk menjadi yg terbesar.

Namun gara-gara berebut menjadi orang besar, pertengkaranpun tidak jarang dilakukan. Rasul-rasul Tuhan juga pernah melakukan itu; mereka bertengkar untuk memperebutkan siapa yang terbesar (Markus 9:33-37; Lukas 9:46-48). Lucunya; Tuhan malah mengambil anak kecil dan menempatkan di tengah-tengah mereka, lalu memeluknya dan menjelaskan bahwa yang terbesar adalah mereka yang menyambut si kecil dengan kasih, yang menyambut kaum lemah, yang bersedia melayani. Hebat! Tuhan Yesus menghancurkan eforia kebesaran para Rasul dengan cara bijak. Menjadi yang terbesar bukan soal kedudukan dalam ketinggian jabatan tertentu, bukan pula soal fisik. Menjadi besar berarti memiliki fungsi untuk melayani. Dan Tuhanpun berkata “... Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Luk 9:48b)

Bagaimana dengan gereja Tuhan khususnya GKJ melakukan fungsinya? Sudahkah melayani dan bersedia menjadi yang terkecil? Atau jangan-jangan kita (gereja) malah disibukkan untuk menggemukkan diri, berlomba menjadi yang terbesar, pongah dengan megahnya gedung gereja yang menjulang tinggi? Bangga karena membutuhkan 3 hari guna menghitung persembahan mingguan, saking banyaknya? Atau sebaliknya kita (gereja) merasa diri terkecil, merasa setia melayani tapi dipenuhi rasa minder. Gerejanya ya ngono-ngono wae (gitu-gitu saja), tidak ada peningkatan kualitas, asik berada di zona aman, dengan semboyan yang terberkibar: “ngene wae wis mlaku kok” (begini saja sudah jalan kok). Wee lhaa... gereja yang besar merasa terbesar, gereja yang kecil merasa terkecil! Ahh... semoga itu hanya ada di GKJ luar angkasa, jauh dari kita.

Yang terpenting bagi gereja, bukan soal besar atau kecilnya fisik. Yang terpenting adalah fungsinya. Mari kita perhatikan gambar ilustrasi di atas; ada 2 lilin. Yang satu besar satunya lagi kecil. Jangan lihat besar kecilnya dua lilin tersebut, coba lihat nyalanya lilin itu? Yang kecil tidak kalah besar nyalanya dengan lilin yang besar to? Kalau begitu, ibarat lilin “kecil” kita tidak perlu minder dengan lilin yang besar, wong nyalanya sama besar. Demikian juga sebaliknya dengan lilin yang besar; bersedia rendah hati, setia dan tetap menyala.Melihat potret Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa maka segera terpampang sebuah peta; itu gereja besar, ini gereja kecil. Itu gemuk, yang ini kurus. Dan itu gereja luas, yang ini sempit. Ahh... itu bukan persoalan, yang utama adalah mari kita “menyala bersama-sama” berfungsisebagai terang di tengah-tengah dunia.

Selamat ulang tahun ke 83

Kayuwanan - Sat

KAYUWANAN
BUKAN SOAL BESAR ATAU KECIL
Tanggal upload 02 Februari 2014 dibuka : 3079 kali